Dari Keterpaksaan Menjadi Cinta

Dari Keterpaksaan Menjadi Cinta

Dari Keterpaksaan Menjadi Cinta

Titin Latifa, Mahasantri One Qur’an Institute Angkatan 9 yang berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Motivasi terbesarnya dalam menghafal Al-Qur’an adalah menjaga kalam-Nya dan mendekatkan diri kepada Pemilik Kalam.
Perjalanannya menghafal Al-Qur’an bermula dari keinginan sang ibu yang memasukkannya ke pesantren. Pada awalnya, ia menjalani proses menghafal karena tuntutan dan keterpaksaan, sehingga belum merasakan makna yang mendalam dari setiap ayat yang dihafalnya.
Namun, setelah lulus dari pesantren dan bergabung dengan One Qur’an Institute atas dorongan saudaranya, ia menemukan kembali semangat yang berbeda. Kini, ia menghafal dengan kesadaran dan niat yang lebih tulus. Momen paling berkesan baginya adalah saat berhasil menyelesaikan hafalan 5 juz pertama, karena saat itulah ia merasakan perjuangan yang sesungguhnya.
Surah Muhammad ayat 31 menjadi ayat favoritnya karena mengajarkan tentang kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi ujian. Setelah lulus, Titin bercita-cita untuk terus belajar dan menjadi pribadi yang bermanfaat dengan menyebarkan ilmu kepada sesama.
.
.
#storysantri #santrikeren #santritahfidz #onequraninstitute #pesantrenkarakterquran
Tidak Mudah Tapi Berharga

Tidak Mudah Tapi Berharga

Tidak Mudah Tapi Berharga

Tidak Mudah Tapi Berharga

🌸 Tidak Mudah Tapi Berharga 🌸
Trinov Maharatu Hasan memiliki keinginan yang kuat untuk memperdalam Al-Qur’an. Semangat dan tekad yang besar membawanya menjadi Mahasantri Angkatan 9 di Pesantren One Qur’an Institute. Berasal dari Gorontalo, ia membawa satu motivasi besar, menjadi salah satu penebar cahaya Al-Qur’an.
Perjalanan menghafal Al-Qur’an sudah dimulai sejak ia masuk ke salah satu pondok pesantren di daerahnya. Namun, langkah awal itu bukanlah hal yang mudah. Baginya, ayat-ayat Al-Qur’an terasa begitu asing untuk dihafalkan. Meski begitu, seiring berjalannya waktu, ia mulai terbiasa dan semakin menikmati proses menghafal.
Semangatnya dalam menghafal tidak berhenti sampai di situ. Ia kemudian melanjutkan hafalannya di salah satu Rumah Qur’an PPA. Di tempat inilah ia mulai memperbaiki kualitas bacaan dan menjaga hafalan yang telah dimiliki. Setelah menyelesaikan hafalannya di sana, salah satu keluarganya menawarkan kesempatan untuk melanjutkan perjuangan di Pesantren One Qur’an Institute. Dari sinilah ia benar-benar merasakan arti perjuangan yang sesungguhnya dalam menjaga dan menghafal Al-Qur’an.
Ayat favorit yang selalu menguatkannya adalah Surah Al-Mumtahanah ayat 8, tentang pentingnya berbuat baik dan menghormati orang lain. Ayat tersebut menjadi pengingat baginya untuk selalu menebarkan kebaikan di mana pun berada.
Ke depannya, ia bercita-cita menjadi seorang guru yang mampu menerapkan dan menyebarkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
.
.
#storysantri #santrikeren #santritahfidz #onequraninstitute #pesantrenkarakterquran
Menata Kehidupan Bersama Al-Qur’an

Menata Kehidupan Bersama Al-Qur’an

Menata Kehidupan Bersama Al-Qur'an

✨ Menata Kehidupan Bersama Al-Qur’an ✨
Imron Akbar adalah salah satu mahasantri di One Quran Institute Angkatan 9 yang berasal dari Tanjung Balai, Sumatra Utara. Motivasi terbesar dalam hidupnya adalah menjadi Ahlul Qur’an dan memberikan mahkota kemuliaan untuk kedua orang tuanya kelak di akhirat.
Perjalanan menghafal Al-Qur’an baginya bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan niat yang kuat serta perjuangan yang gigih untuk menjaga hafalannya. Namun, dukungan dari orang tua dan guru-guru menjadi pendorong utama baginya untuk terus melangkah dalam menghafal Al-Qur’an. Seiring berjalannya waktu, berbagai kesulitan yang dihadapi membuatnya belajar tentang arti kesabaran dan kesetiaan dalam menjaga ayat-ayat Allah.
Di Pesantren One Qur’an Institute inilah menjadi titik awal baginya untuk lebih memperdalam dan mengamalkan Al-Qur’an. Di sini, ia merasakan bahwa menghafal bukan hanya tentang menjaga ayat, tetapi juga bagaimana cara mengamalkan isi Al-Qur’an. Baginya, hal itu menjadi tantangan baru yang membuat dirinya semakin dekat dengan akhlak Rasulullah ﷺ.
Ayat yang selalu menjadi penguat dalam perjalanan hafalannya adalah Surah At-Tahrim ayat 5-8. Baginya, ayat tersebut mengingatkan bahwa dunia ini hanyalah sementara dan tidak ada tempat kembali yang abadi selain akhirat.
Ke depannya, setelah lulus dari pesantren ini, ia bercita-cita menjadi seorang pengusaha yang tetap menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupannya.
.
.
#storysantri #santrikeren #santritahfidz #onequraninstitute #pesantrenkarakterquran
Jalan Panjang Menjaga Kalam

Jalan Panjang Menjaga Kalam

Jalan Panjang Menjaga Kalam

Jalan Panjang Menjaga Kalam

🍂 Jalan Panjang Menjaga Kalam 🍂
Perjuangan Rofiatul Afifah dalam menghafal Al-Qur’an membawanya menjadi salah satu mahasantri Angkatan 9 di Pesantren One Qur’an Institute yang berasal dari Sorong, Papua Barat. Motivasi terbesarnya dalam menghafal Al-Qur’an adalah agar bisa lebih dekat dengan Sang Pemilik Kalam, serta mempersembahkan mahkota kemuliaan untuk kedua orang tuanya di akhirat kelak.
Perjalanan menghafalnya dimulai sejak duduk di bangku sekolah dasar. Dengan penuh kesungguhan, ia terus melanjutkan perjuangan itu hingga lulus dari bangku Aliyah. Di tengah kebimbangan antara melanjutkan kuliah atau fokus menghafal Al-Qur’an, sang ibu memberikan saran untuk melanjutkan program tahfidz di Pesantren One Qur’an Institute. Dari situlah ketertarikannya tumbuh hingga akhirnya ia memutuskan untuk mendaftar.
Selama menjalani proses menghafal di sana, ia merasa sangat terbimbing, terutama dalam memperbaiki tahsin dan tajwid. Baginya, setiap koreksi dalam bacaan menjadi pelajaran berharga agar ia mengetahui letak kesalahan dan terus memperbaiki diri. Tidak hanya belajar menghafal, ia juga merasa diajarkan untuk memiliki karakter yang baik, sebagaimana Rasulullah hidup dengan akhlak Al-Qur’an.
Surah favoritnya adalah Surah Ar-Rahman ayat 60, karena ayat tersebut membuatnya yakin bahwa setiap kebaikan dan amal saleh yang dilakukan akan dibalas Allah dengan kebaikan yang lebih besar.
Ke depannya, ia bercita-cita untuk terus istiqamah bersama Al-Qur’an serta menjadi seorang guru yang hidup dengan nilai-nilai dan akhlak Al-Qur’an.
.
.
#storysantri #santrikeren #santritahfidz #onequraninstitute #pesantrenkarakterquran
Ketika Al-Qur’an Menjadi Arah Hidup

Ketika Al-Qur’an Menjadi Arah Hidup

Ketika Al-Qur'an Menjadi Arah Hidup

Namanya Syifa Sijil Gauri, salah satu mahasantri Angkatan 9 yang berasal dari Serang, Banten. Motivasi terbesarnya dalam menghafal Al-Qur’an adalah ingin mengetahui rahasia keajaiban Al-Qur’an serta membumikan bahasa langit. Dari motivasi itulah tumbuh semangat dalam dirinya untuk terus belajar dan menghafal Al-Qur’an.
Baginya, bergabung di Pesantren One Qur’an Institute menjadi titik awal dalam melanjutkan perjalanan belajar dan menghafal Al-Qur’an. Selama berada di sini, ia merasakan perjuangan yang berbeda dari perjalanan yang pernah ia lewati sebelumnya. Salah satu momen yang paling ia ingat adalah saat diuji dengan kesabaran dalam menghafal Al-Qur’an. Hal itu menjadi tantangan tersendiri baginya. Namun, setiap kepahitan yang dilalui perlahan berubah menjadi manis ketika ia mulai menikmati setiap proses yang sedang dihadapi.
Tak sampai di sana, ia juga sangat bersyukur karena dipertemukan dengan guru-guru dan teman-teman yang selalu mendukung serta memberikan motivasi dalam perjuangannya menghafal Al-Qur’an. Surah favoritnya adalah Surah Al-Qari’ah karena menurutnya surah tersebut mengingatkan bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, sehingga waktu yang dimiliki lebih baik digunakan untuk memperbanyak iman dan amal.
Ke depannya, ia bercita-cita menjadi seorang pengusaha yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an dan menjadikan Al-Qur’an sebagai karakter yang terus melekat dalam dirinya, sebagaimana akhlak Rasulullah. Karena baginya, mencintai Al-Qur’an bukan sekadar membacanya, tetapi juga mengamalkannya.
.
.
#storysantri #santrikeren #santritahfidz #onequraninstitute #pesantrenkarakterquran

Story Mahasantri  Nurhalimah

Story Mahasantri  Nurhalimah

Story Mahasantri  Nurhalimah

Nurhalimah, Mahasantri One Quran Institute asal Tebing tinggi, Sumatera Utara memilih QS. Al-Baqarah ayat 216 sebagai ayat favoritnya. Ayat ini memberinya keyakinan bahwa setiap takdir yang Allah tetapkan adalah yang terbaik, meskipun mungkin berbeda dari rencana manusia. Baginya, Allah selalu menyiapkan rencana yang jauh lebih indah dari yang ia harapkan.
Keinginan Nurhalimah untuk menjadi penghafal Al-Quran mulai muncul saat ia berusia 12 tahun ketika masih duduk di bangku SMP, meskipun saat itu ia kurang berinteraksi dengan Al-Quran. Saat kelas 2 SMA, ia sudah berencana untuk mendaftar ke One Quran Institute (OQI) meski belum lulus SMA. Namun, setelah berdiskusi dengan orang tua dan pihak sekolah, ia memutuskan untuk menunda pendaftarannya setelah lulus SMA.
Ketika kelas 3 SMA, rasa takut akan perjuangan mondok tahfizh mulai menghantuinya. Di sisi lain, ia juga berpeluang melanjutkan kuliah lewat jalur SNBP. Kebingungan melanda dirinya, tapi akhirnya ia memilih untuk fokus pada keinginan mondok. Sayangnya, saat itu pendaftaran OQI gelombang kedua sudah ditutup, membuatnya merasa bahwa mungkin OQI bukan tempatnya.
Namun, Qadarullah, tak lama kemudian OQI membuka pendaftaran gelombang ketiga. Nurhalimah segera mendaftar dan mengikuti tes seleksi secara online. Awalnya, ia dinyatakan tidak lulus dan masuk dalam list cadangan. Meski demikian, ia tetap menyerahkan semuanya kepada Allah, yakin bahwa masih ada harapan. Alhamdulillah beberapa hari kemudian, ia mendapat kabar bahwa ia diterima karena masih ada kuota mahasantri.
Motivasi terbesar Nurhalimah dalam menghafal Al-Quran adalah mencari ridho dan cinta Allah melalui kalam-Nya yang mulia.
Ikuti terus kisah inspiratif para santri One Quran Institute dengan mengikuti akun Instagram kami @_onequraninstitute 😊
#storysantri #santrikeren #kisahinspiratifsantri #santripenghafalquran #onequraninstitute
Story Mahasantri : Yeni Nur Oktafiani

Story Mahasantri : Yeni Nur Oktafiani

Yeni Nur Oktafiani, Mahasantri One Quran Institute asal Sukabumi, dikenal sebagai sosok yang penuh semangat dalam menghafal Al-Quran, meskipun cita-citanya menjadi penghafal Al-Quran sempat tertunda. Saat kelas 12, niatnya adalah melanjutkan pendidikan di Pondok Tahfizh, namun Allah SWT memberinya jalan berbeda dengan mengizinkannya menempuh studi di sebuah Universitas.
Selepas kuliah, ia kembali ke almamaternya untuk mengabdi. Awalnya, ia berharap bisa mengajar Pendidikan Agama Islam, namun justru ditugaskan sebagai pengajar Baca Tulis Quran (BTQ) dan pembina Tahfizh. Di sinilah ia menyadari bahwa ilmunya tentang Al-Quran masih perlu ditingkatkan. Setiap malam, Yeni mempelajari tahsin melalui video dan mengikuti dua program di One Quran Institute secara online, yaitu BRQ (Back to Read Quran) dan BMQ (Back to Memorize Quran)
Saat melihat murid-muridnya memiliki hafalan yang lebih banyak, keinginannya untuk mondok di pesantren tahfizh semakin yakin. Doa sang Ayah yang memohon kesembuhan agar bisa kembali membaca Al-Quran menjadi pendorong kuat baginya.
Dengan tekad yang besar, Ia mendaftar pada PMB OQI Angkatan 7 dan Alhamdulillah, ia berhasil diterima. Kini, Yeni termotivasi untuk terus menghafal Al-Quran demi meraih ridho Allah dan memberi manfaat bagi orang lain.
Terus ikuti kisah inspiratif para santri One Quran Institute dengan mengikuti akun Instagram kami @_onequraninstitute 😊
#storysantri #santrikeren #santripenghafalquran #onequraninstitute
Story Mahasantri : Yusuf Iksan

Story Mahasantri : Yusuf Iksan

Story Mahasantri : Yusuf Iksan

Santri bernama Yusuf Iksan Abdurrahman adalah remaja asal Manado, Sulawesi Utara. Ia bercita-cita menjadi Da’i yang hafal Al-Quran dan berdakwah ke berbagai negara. QS. AL-Baqarah ayat 151-157 menjadi ayat favoritnya karena ayat ini mengajarkan untuk selalu mengingatkan Allah dalam keadaan lapang maupun sempit.
Perjalanannya bersama Al-Quran dimulai ketika lulus dari bangku Tsanawiyyah. Karena belum cukup usia untuk melanjutkan ke Madrasah Aliyah, ia didaftarkan oleh orang tuanya ke Rumah Tahfizh. Di sanalah pertama kali Ia diajarkan cara membaca Al-Quran yang sesuai dengan tajwid dan mulai menghafal Al-Quran.
Setelah beberapa tahun, Ia harus berhenti menghafal dari Rumah Tahfizh untuk melanjutkan pendidikan ke Madrasah Aliyah Negeri. Selama masa MA, Ia sudah jarang memurojaah hafalannya dan ini merupakan masa tersulit baginya dalam menjaga hafalan Quran.
Akhirnya setelah lulus dari MA Negeri, Alhamdulillah Ia diterima di One Quran Institute. Ia merasa sangat bahagia karena bisa fokus lagi menghafal dan lebih dekat lagi dengan Al-Quran.
Motivasi terbesarnya dalam menghafal quran adalah hadits Nabi yang berbunyi, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Tirmidzi)
Ikuti terus cerita perjalanan Quran dari para santri One Quran Institute dengan follow akun instagram kami @_onequraninstitute
#storyquransantri #keluargaAllah #donasikebaikan #onequraninstitute
Story Mahasantri : Nisa Nurjanah

Story Mahasantri : Nisa Nurjanah

Story Mahasantri : Nisa Nurjanah

Nisa Nurjanah seorang perempuan asal Bandung, salah satu mahasantri One Quran Institute.
QS. Az-Zumar: 53 adalah ayat favoritnya. Ayat ini menjadi pengingat untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah dan selalu berusaha untuk kembali kepada-Nya. Sehingga memberikan harapan dan semangat baru yang luar biasa, terutama saat ia merasa terpuruk atau menghadapi kesedihan dalam hidup.
Sejak kecil, ia sudah terbiasa mendengar dan belajar Al-Quran bersama keluarganya. Ketika masih kelas 3 SD, Adiknya jatuh sakit dan dirawat di Rumah sakit. Ia mengingat bahwa saat itu, meski usianya masih sangat muda, ia berhasil membaca Surah Yasin tanpa henti sampai selesai.
Nisa menyadari bahwa interaksinya dengan Al-Qur’an sering kali dipengaruhi oleh suasana hati dan keadaan. Ketika menghadapi kesulitan, ia merasa terdorong untuk kembali kepada Al-Qur’an, mencari ketenangan dan petunjuk dalam ayat-ayat-Nya.
Namun, saat keadaan membaik dan kebahagiaan datang, ada kalanya ia tanpa sadar mulai menjauh dan melupakan kebiasaan membaca Al-Qur’an secara rutin. Bahkan untuk mengkhatamkan tilawah quran dalam setahun saja bisa dihitung jari.
Sebelum masuk OQI, Ia merasa bacaannya telah sesuai kaidah tajwid. Tapi setelah masuk OQI, ternyata selama ini pengucapan hurufnya tidak sesuai dengan tempat keluarnya.
Sejak dulu, ia berkeinginan masuk pondok tahfizh. Hingga pada suatu hari Allah mengabulkan doanya dan menempatkan ia di One Quran Institute.
Motivasinya dalam menghafal Quran adalah ingin menggapai Ridho Allah dan menjadi hamba yang semakin dekat dengan-Nya lewat Al-Quran.
Ikuti terus cerita perjalanan Quran dari para santri One Quran Institute dengan follow akun instagram kami @_onequraninstitute
#storyquransantri #keluargaAllah #donasikebaikan #onequraninstitute